Jumat, 30 Januari 2015

Merdeka

merdeka...
itu apa sih?
bebas, lepas, jaya?
mungkin...

17 Agustus 2013
Indonesia 68 tahun merdeka
merdeka dari penjajah
merdeka dari penderitaan

merdeka,
berlaku bagi negara
belum tentu bagi bangsa
68 tahun
masih tawuran
masih korupsi

apalah artinya sebuah kemerdekaan
apalah gunanya Pancasila dari para tokoh dahulu
Bhineka Tunggal Ika hanya semboyan belaka
apalah artinya wakil rakyat
uang rakyat dimakan oleh wakilnya
rakyat sengsara, wakil kaya raya

merdeka,,,
semoga sungguh merdeka
tidak hanya menjadi status bagi negara
namun nyata bagi bangsa

Indonesia merdeka
bangsa Indonesia merdeka!!!

                                                                        (18 Agustus 2013)
CINTA

cinta itu...
perasaan...
mungkin ya, mungkin tidak
cinta itu tidak bisa dijawab dengan kata-kata
tapi cinta bisa dijawab dengan hati

aku cinta dia dengan setulus hati
tapi ketika ditanya mengapa?
aku tak tahu
tapi perasaankau, hatiku bilangnya cinta

cinta itu aneh
cinta itu kayak jelangkung
pergi tak dihantar, pulang tak dijemput
datang tak diundang, pergi tak diusir

tapi,,,
yang masih jadi pertanyaan
kenapa kok manusia itu bisa jatuh cinta?
punya hati dan perasaan, memang
tapi,,, kok tidak bisa diucapin
diucapin saja susah apalagi diungkapin

sungguh aneh tapi nyata
Cerita Indah Namun Tiada Akhir (CINTA)

                                                                                    (25 Juli 2013)
PANGGILAN

seperti sebuah pohon
berawal dari benih
dipupuk dan disiram air
bertumbuh hingga menghasilkan buah
serta bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya

begitupun panggilanku
berawal dari pribadi yang polos
dipupuk dengan doa dan disiram dengan sabda Allah
akhirnya tumbuhlah panggilan imamat dalam diriku
aku berharap nantinya mampu menghasilkan buah
berguna bagi sesama dan Tuhan
serta menjadi pelayan yang sederhana dan murah hati

Tuhan...
bimbinglah aku agar aku kuat
dampingilah aku agar aku selalu berbuat yang benar
sertailah aku selalu agar aku mampu untuk terbuka

                                                                                    (2013)

Kamis, 29 Januari 2015

RAKUS

Tuus Servus Sum Ego
semboyan Keuskupan Agung Palembang
harusnya juga dijadikan semboyan oleh negeri ini
bapak kita, harusnya mengerti keadaan rakyatnya
bukan keadaan pejabatnya

menpora. Andi Malarangeng. korupsi
anggota DPR. Angelina Sondakh. korupsi
jaksa. Gayus Tambunan. terima suap
wakil presiden. Boediono. terlibat kasus century

entah apa yang dipikirkan sang bapak
semua pejabat menggerogoti uang rakyat
semua pejabat seperti tikus
tikus adalah rakus

sungguh mengerikan ironi di negeri ini
rakyat miskin gara-gara pejabat
negara miskin gara-gara pejabat
negeri ini aneh
pejabat tiada rakyat sengsara
pejabat ada pun rakyat tetap sengsara

huf...
sedihnya negeri ini
apakah tidak ada Soekarno yang seperti dulu?
apakah tidak ada pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyat?
kita butuh bukti bukan janji
ingat, jangan ada lagi pejabat yang seperti tikus
tikus adalah rakus

                                                                                                                        (28 Juni 2013)
Masa Lalu

Entah kenapa aku muak dengan dia
Entah kenapa aku selalu emosi bila melihatnya
Entah kenapa bosen rasanya melihat dia
Entah kenapa males ngeliat dia lagi

Aku mohon maaf
Aku tak bisa membuatmu bahagia
Aku tak bisa mengisi relung hatimu yang kosong
Aku benci dengan semuanya
Aku hanya berharap kau dapat berubah
Berubah menjadi seperti yang dulu
Maafkan aku yang pernah menyakitimu
Itu semua kulakukan karena aku cinta kau

Aku telah menemukan penggantimu
Meskipun aku tak terlalu dekat seperti dirimu
Tapi setidaknya dia tak sama dengan dirimu
Semuanya telah kuberikan bagimu
Baik hal terindah maupun hal buruk yang ada padaku
Tapi semuanya itu hanyalah buaian belaka
Semuanya itu hanya angin berlalu
Semuanya itu seperti sebuah sinetron
Engkau pintar dalam panggung sandiwaramu
Sedangkan aku yang sutradara tak kau  anggap

Kukatakan CUT!!!
Kau terus berakting,,,,,
Kusuruh kau berakting,,,,,,,
Kau malah lari dari semua ini
Aku tak mengerti jalan pikiranmu
Kau kuanggap dewasa
Namun tingkahmu kekanakan
Kau kuanggap kekanakan
Tapi kau bersikap dewasa
Ingin kuhentikan semuanya tapi terlanjur
Aku tak bisa menghentikannya
Kau seperti lem yang selalu menempel dalam pikiranku

                                                                                                (12 Mei 2013)

Rabu, 28 Januari 2015

Tiba-tiba

Tet….tet….tet…….
                Suara bel dikamarku membangunkan aku dari tidur ku. Tak terasa aku sudah berada di rumah setelah sekian lama aku di asrama.
“selamat pagi dunia!!!!”  ucapku saat membuka jendela kamarku.
Nama ku  adalah Alex, pemuda tampan berusia 17 tahun, ganteng, manis, pintar, setia, playboy, tapi tetap disenangi banyak wanita. Sebenarnya aku setia, tapi kalau kekasih ku ngak serius, aku berubah.
                Hari ini adalah hari yang mengembirakan bagiku. Setelah semalam sebelumnya aku menyiapkan segala sesuatu, pagi ini juga aku akan perjalanan dari Palembang menuju ke Lubuklinggau. Senang hatiku karena akan berjumpa dengan keluargaku, tapi juga sedih karena meninggalkan pacarku.

Tut….tut….
                Dari kejauhan kudengar klakson kereta api berbunyi yang menandakan aku sesaat lagi tiba di stasiun kertapati. Tak ada kesibukan lagi, aku pun langsung memasuki gerbong kereta. Untungnya di stasiun sinyal hp ku penuh, jadinya aku punya kesempatan untuk menelpon pacarku. Sedang asik bertelponan, suara informan melalui speaker mengajak para penumpang untuk masuk ke gerbong masing-masing. Tak lama kemudian kereta pu berangkat. Aku member  kabar kepada keluargaku bahwa kereta yang aku tumpangi telah berangkat.

Tut…tut….
                Suara klakson kereta yang panjang menandakan aku telah tiba di tempat tujuanku yaitu Lubuklinggau. Setelah kurang lebih aku duduk selama 8 jam dikereta, akhirnya tiba juga dan bisa meluruskan pinggang. Ketika aku turun, aku disambut oleh banyak orang. Tapi tentunya mereka bukan penggemarku melainkan orang-orang yang akan menjemput penumpang lainnya. Seluruh penjuru telah kuamati, dan akhirnya aku melihat bapak ku. Senang rasanya bisa berjumpa.
                Setelah sejenak mengobrol, aku langsung pulang bersama bapak. Perjalanan jauh pun kembali aku tempuh. Sekitar 2 jam perjalanan dari stasiun menuju rumah. Setelah sampai, aku tak sempat beristirahat karena diajak bapak untuk menonton kuda lumping, dan kebetulan adik ku yang bermain. Namun, tak lama kemudian aku mengantuk dan pulang.
                Tujuan utama ku kesini adalah untuk bertemu dengan keluargaku dan melepas rindu. Tapi, keadaan berkata lain. Aku menemukan sebuah cinta disini. Entah apa yang terlintas di dalam benakku, sehingga aku melupakan pacarku. Aku seperti terhipnotis oleh keadaan disini, yang membuatku mampu untuk melupakan segalanya. Aneh.

Moo….  Mbek……
                Kicauan sapi dan siulan kambing membangunkan aku dari tidur lelap ku. Segar dan dingin yang kurasakan di pagi hari ini. Tidak terasa ternyata aku sudah ada di sini, tempat yang hampir 2 tahun lebih tidak kusambangi. Hijaunya pohon-phon dan tanaman yang ada disekitar rumah membuat mataku jadi fresh. 
                Disini aku mengerti segala sesuatu. Disini aku belajar untuk hidup sederhana. Aku belajar nderes karet, ngarit rumput, memotong kayu bakar dan memasak. Sungguh sulit hidup menjadi orang sederhana itu.
                Tak terasa satu minggu telah berlalu semenjak kedatanganku. Aku harus pulang ke Palembang. Tetapi aku memiliki peristiwa sebelum pulang. Aku berkenalan dengan seorang wanita cantik nan manis. Nama nya Deva, anak kelas 3 SMP yang kebetulan satu sekolah dengan adikku. Karena hal tersebut, aku menunda kepulangan hingga 5 hari kedepan.
                Sebenarnya aku sudah suka dengan dia sejak pertama melihat dia, tapi aku baru kenalan beberapa hari kemudian. Aku berkenlan melalui  via SMS. Lalu keesokan harinya aku memberanikan diri untuk menyapanya, meskipun aku malu. Selama 4 hari itu aku lalui bersama dengan dia, hingga timbul perasaan saling mencintai satu sama lain. Dalam hati aku bingung dengan pacarku di Palembang. Tapi mau bagaimana lagi, hubungan kami juga sudah diujung tanduk. Lalu setelah tiba waktunya, aku pulang ke Palembang. Berat rasanya untuk meninggalkannya. Tapi demi panggilanku, aku harus meninggalkannya.
                Di Palembang aku selalu memikirkannya, dan membayangkan kejadian kemarin terulang kembali. Tapi, semua hanya mimpi. Hanya lewat SMS kami berkomunikasi, dan itupun ketika aku pulang saat ambulatio. [1]
                Sebulan masih kangen, tapi bulan selanjutnya aku mulai bosan dan aku mencoba untuk melupakannya. Hngga kini akupun berhasil untuk melupakannya. Karena aku ingat, cinta tak harus memiliki.




[1] Bahasa Latin: Berjalan/Jalan-jalan
Pemuda Kaya

Bau anyir dan amis dapat tercium dalam radius +- 1Km. Terhimpit oleh bangunan-bangunan besar bak gedung pencakar langit, disanalah tinggal seorang pemuda bernama Hendra, didalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hendra, pemuda berpendidikan dari keluarga yang sangat miskin dan seorang yatim piatu. Ia tidak mampu melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi karena tidak ada orang yang mau mengakui keberadaannya. Pekerjaannya sebagai pemulung diantara tumpukan sampah yang bau dan menjijikkan. Dengan matanya yang tajam dan teliti dia memilih samaph plastic yang akan ia pungut. Ia adalah professional dan bergelar S.P. (Sarjana Pemulungan), dan sangat tekun serta giat diantara para tetangganya.

                Malam yang begitu cerah, diterangi sinar bulan purnama yang begitu terang laksana lampu sorot. Hendra melepas lelah dengan berkeliling di luar area pemukimannya. Setelah cukup dirasa, Hendra pun pulang. Sebelum sampai rumah, Hendra melihat cahaya merah yang begitu terang dan besar. Setelah didekatinya ternyata itu adalah api yang membakar area pembuangan sampah lengkap dengan pemukiman para pemulung. Pemerintah, sebagai tuan atas tanah tentu memiliki kebijakan. Pemerintah menutup lokasi tersebut khususnya untuk ditinggali atau dijadikan pemukiman penduduk. Hendra dan yang lain merantau ke luar dari area yang mereka rasa cukup damai.

                Hendra menjelajah dan berekspedisi untuk menemukan tempat tinggal baru yang tidak perlu mengeluarkan uang untuk ditinggali. Ia bingung, entah harus kemana ia mencari tempat yang demikian. Ketika sedang mencari-cari, Hendra dikejar oleh polisi karena dianggap sebagai copet, tampang dekil dan berantakan memang mirip seorang copet. Hendra terus berlari untuk menghindari kejaran polisi. Tanapa sengaja, Hendra masuk kedalam suatu gorong-gorong yang gelap dan sepertinya aman. Tanpa piker panjang, Hendra pun memilih tempat tersebut untuk ia tinggal sementara. Malam ini merupakan malam pertama baginya untuk tidur didalam gorong-gorong.

                Pagi yang cerah, dengan matahari yang menyambut dengan senyuman. Hendra terbangun dari tidurnya. Pagi ini, ia bingung ingin menyantap makanan seperti apa dengan uang Rp 0,00 ditangan. Hendra mencoba untuk mengemis demi makan untuk pagi ini, dan hasilnya cukup untuk membeli makan pagi. Disepanjang jalan Hendra merenungkan nasibnya, “hidup tanpa uang dan tanpa modal apapun, apakah bisa?” ucapnya dalam hati. Ketika merenung, Hendra melihat selebaran iklan yang tertempel dipohon beringin. “Lowongan Pekerjaan. Dicari orang yang mampu menjadi OB. Tanpa syarat dan langsung bekerja.” Melihat hal itu, hati Hendra merasa puas dan ia pun bersemangat untuk menerima tawaran tersebut. Saat itulah Hendra langsung menuju perusahaan yang ada di alamat iklan tadi. Setelah bertemu dengan manajer perusahaan, Hendra pun langsung dipercaya untuk bekerja. Senang hati Hendra, akhirnya ia pun bisa bekerja untuk mendapatkan uang demi hidupnya.

                Dari dulu Hendra adalah seorang yang rajin dan tekun. Hingga sekarang pun ia tetap pada sifatnya tersebut. Setelah Hendra menjadi OB di perusahaan tersebut, banyak hal aneh yang dialami para karyawan begitupun dengan sang manajer dan sang direktur. Keadaan kantor yang semula begitu berantakan, namun dalam satu malam semuanya menjadi rapi dan teratur. Sang manajer merasa heran dan curiga dengan hal ini selain itu juga terjadi selama 2 minggu ini. Hati manajer tergerak untuk menyelidiki langsung peristiwa ini. Hari ini, ia sengaja untuk bermalam di rungannya tanpa ada seorangpun yang tahu. Ketika semua karyawan telah pulang, tinggalah manajer sendirian. Setelah shalat is’ya manajer mendegar suara orang yang sedang beraktivitas. Ketika diintipnya, ternyata orang itu adalah Hendra. Hendra tinggal digudang perusahaan dan tidak lagi pulang ke rumah gorong-gorongnya. Hendra melakukan demikian karena ada sesuatu yang mendorongnya untuk merapikan keadaan kantor.

                Keesokan harinya, sang manajer menaikkan jabatan Hendra untuk menjadi supervisor perusahaan. Ia sangat bersyukur pada Tuhan karena kenaikan jabatannya yang tidak ia duga. Makin hari keadaan perusahaan makin meningkat, baik itu dalam hal keungan, pemasaran, maupun hubungan dengan perusahaan lain. Sungguh perubahan yang sangat drastis. Meskipun ia menjadi seorang supervisor, tapi ia tetap membantu pegawainya dalam bekerja bahkan membantu pekerjaan OB. Karena kepekaannya lah akhirnya Hendra diangkat sebagai karyawan terbaik dalam bulan itu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Hendra merasakan dirinya seperi tidak bebas untuk menjalani hidup ini.

                Keputusan yang mengejutkan bagi karyawan dan manajer peusahaan, Hendra mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan memilih hidup didalam rumah gorong-gorongnya yang ada dialam lepas. Hendra sadar, sejak kecil ia tidak cocok untuk tinggal didalam rumah yang mewah, tapi rumah seadanya lah yang ia rasa cocok. Hendra, meskipun diluar perusahaan, ia tetap menjunjung tinggi nilai kepekaan dalam dirinya. Apabila ada sesuatu yang salah, dengan keadaan yang seadanya Hendra mau bergerak. Hendra beprinsip “bumi adalah rumahku, dan rumahku harus dijaga agar tetap bersih. Demi hal-hal yang menyangkut kekayaan harta, aku rela hidup miskin dan tanpa jabatan pekerjaan.”


èTAMATç