Pemuda Kaya
Bau anyir dan amis dapat tercium dalam radius +- 1Km.
Terhimpit oleh bangunan-bangunan besar bak gedung pencakar langit, disanalah
tinggal seorang pemuda bernama Hendra, didalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hendra, pemuda berpendidikan dari
keluarga yang sangat miskin dan seorang yatim piatu. Ia tidak mampu melanjutkan
sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi karena tidak ada orang yang mau
mengakui keberadaannya. Pekerjaannya sebagai pemulung diantara tumpukan sampah
yang bau dan menjijikkan. Dengan matanya yang tajam dan teliti dia memilih
samaph plastic yang akan ia pungut. Ia adalah professional dan bergelar S.P.
(Sarjana Pemulungan), dan sangat tekun serta giat diantara para tetangganya.
Malam yang begitu cerah,
diterangi sinar bulan purnama yang begitu terang laksana lampu sorot. Hendra
melepas lelah dengan berkeliling di luar area pemukimannya. Setelah cukup
dirasa, Hendra pun pulang. Sebelum sampai rumah, Hendra melihat cahaya merah
yang begitu terang dan besar. Setelah didekatinya ternyata itu adalah api yang
membakar area pembuangan sampah lengkap dengan pemukiman para pemulung.
Pemerintah, sebagai tuan atas tanah tentu memiliki kebijakan. Pemerintah
menutup lokasi tersebut khususnya untuk ditinggali atau dijadikan pemukiman
penduduk. Hendra dan yang lain merantau ke luar dari area yang mereka rasa
cukup damai.
Hendra menjelajah dan
berekspedisi untuk menemukan tempat tinggal baru yang tidak perlu mengeluarkan
uang untuk ditinggali. Ia bingung, entah harus kemana ia mencari tempat yang
demikian. Ketika sedang mencari-cari, Hendra dikejar oleh polisi karena
dianggap sebagai copet, tampang dekil dan berantakan memang mirip seorang
copet. Hendra terus berlari untuk menghindari kejaran polisi. Tanapa sengaja,
Hendra masuk kedalam suatu gorong-gorong yang gelap dan sepertinya aman. Tanpa
piker panjang, Hendra pun memilih tempat tersebut untuk ia tinggal sementara.
Malam ini merupakan malam pertama baginya untuk tidur didalam gorong-gorong.
Pagi yang cerah, dengan matahari
yang menyambut dengan senyuman. Hendra terbangun dari tidurnya. Pagi ini, ia
bingung ingin menyantap makanan seperti apa dengan uang Rp 0,00 ditangan.
Hendra mencoba untuk mengemis demi makan untuk pagi ini, dan hasilnya cukup
untuk membeli makan pagi. Disepanjang jalan Hendra merenungkan nasibnya, “hidup
tanpa uang dan tanpa modal apapun, apakah bisa?” ucapnya dalam hati. Ketika
merenung, Hendra melihat selebaran iklan yang tertempel dipohon beringin. “Lowongan Pekerjaan. Dicari orang yang mampu
menjadi OB. Tanpa syarat dan langsung bekerja.” Melihat hal itu, hati
Hendra merasa puas dan ia pun bersemangat untuk menerima tawaran tersebut. Saat
itulah Hendra langsung menuju perusahaan yang ada di alamat iklan tadi. Setelah
bertemu dengan manajer perusahaan, Hendra pun langsung dipercaya untuk bekerja.
Senang hati Hendra, akhirnya ia pun bisa bekerja untuk mendapatkan uang demi
hidupnya.
Dari dulu Hendra adalah seorang
yang rajin dan tekun. Hingga sekarang pun ia tetap pada sifatnya tersebut.
Setelah Hendra menjadi OB di perusahaan tersebut, banyak hal aneh yang dialami
para karyawan begitupun dengan sang manajer dan sang direktur. Keadaan kantor
yang semula begitu berantakan, namun dalam satu malam semuanya menjadi rapi dan
teratur. Sang manajer merasa heran dan curiga dengan hal ini selain itu juga
terjadi selama 2 minggu ini. Hati manajer tergerak untuk menyelidiki langsung
peristiwa ini. Hari ini, ia sengaja untuk bermalam di rungannya tanpa ada
seorangpun yang tahu. Ketika semua karyawan telah pulang, tinggalah manajer sendirian.
Setelah shalat is’ya manajer mendegar suara orang yang sedang beraktivitas.
Ketika diintipnya, ternyata orang itu adalah Hendra. Hendra tinggal digudang
perusahaan dan tidak lagi pulang ke rumah gorong-gorongnya. Hendra melakukan
demikian karena ada sesuatu yang mendorongnya untuk merapikan keadaan kantor.
Keesokan harinya, sang manajer
menaikkan jabatan Hendra untuk menjadi supervisor perusahaan. Ia sangat
bersyukur pada Tuhan karena kenaikan jabatannya yang tidak ia duga. Makin hari
keadaan perusahaan makin meningkat, baik itu dalam hal keungan, pemasaran,
maupun hubungan dengan perusahaan lain. Sungguh perubahan yang sangat drastis.
Meskipun ia menjadi seorang supervisor, tapi ia tetap membantu pegawainya dalam
bekerja bahkan membantu pekerjaan OB. Karena kepekaannya lah akhirnya Hendra
diangkat sebagai karyawan terbaik dalam bulan itu. Hari berganti hari, minggu
berganti minggu, bulan berganti bulan, Hendra merasakan dirinya seperi tidak
bebas untuk menjalani hidup ini.
Keputusan yang mengejutkan bagi
karyawan dan manajer peusahaan, Hendra mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan
memilih hidup didalam rumah gorong-gorongnya yang ada dialam lepas. Hendra
sadar, sejak kecil ia tidak cocok untuk tinggal didalam rumah yang mewah, tapi rumah seadanya lah yang ia rasa cocok.
Hendra, meskipun diluar perusahaan, ia tetap menjunjung tinggi nilai kepekaan
dalam dirinya. Apabila ada sesuatu yang salah, dengan keadaan yang seadanya
Hendra mau bergerak. Hendra beprinsip “bumi adalah rumahku, dan rumahku harus dijaga
agar tetap bersih. Demi hal-hal yang menyangkut kekayaan harta, aku rela hidup
miskin dan tanpa jabatan pekerjaan.”
èTAMATç
Tidak ada komentar:
Posting Komentar