Rabu, 28 Januari 2015

Pemuda Kaya

Bau anyir dan amis dapat tercium dalam radius +- 1Km. Terhimpit oleh bangunan-bangunan besar bak gedung pencakar langit, disanalah tinggal seorang pemuda bernama Hendra, didalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hendra, pemuda berpendidikan dari keluarga yang sangat miskin dan seorang yatim piatu. Ia tidak mampu melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi karena tidak ada orang yang mau mengakui keberadaannya. Pekerjaannya sebagai pemulung diantara tumpukan sampah yang bau dan menjijikkan. Dengan matanya yang tajam dan teliti dia memilih samaph plastic yang akan ia pungut. Ia adalah professional dan bergelar S.P. (Sarjana Pemulungan), dan sangat tekun serta giat diantara para tetangganya.

                Malam yang begitu cerah, diterangi sinar bulan purnama yang begitu terang laksana lampu sorot. Hendra melepas lelah dengan berkeliling di luar area pemukimannya. Setelah cukup dirasa, Hendra pun pulang. Sebelum sampai rumah, Hendra melihat cahaya merah yang begitu terang dan besar. Setelah didekatinya ternyata itu adalah api yang membakar area pembuangan sampah lengkap dengan pemukiman para pemulung. Pemerintah, sebagai tuan atas tanah tentu memiliki kebijakan. Pemerintah menutup lokasi tersebut khususnya untuk ditinggali atau dijadikan pemukiman penduduk. Hendra dan yang lain merantau ke luar dari area yang mereka rasa cukup damai.

                Hendra menjelajah dan berekspedisi untuk menemukan tempat tinggal baru yang tidak perlu mengeluarkan uang untuk ditinggali. Ia bingung, entah harus kemana ia mencari tempat yang demikian. Ketika sedang mencari-cari, Hendra dikejar oleh polisi karena dianggap sebagai copet, tampang dekil dan berantakan memang mirip seorang copet. Hendra terus berlari untuk menghindari kejaran polisi. Tanapa sengaja, Hendra masuk kedalam suatu gorong-gorong yang gelap dan sepertinya aman. Tanpa piker panjang, Hendra pun memilih tempat tersebut untuk ia tinggal sementara. Malam ini merupakan malam pertama baginya untuk tidur didalam gorong-gorong.

                Pagi yang cerah, dengan matahari yang menyambut dengan senyuman. Hendra terbangun dari tidurnya. Pagi ini, ia bingung ingin menyantap makanan seperti apa dengan uang Rp 0,00 ditangan. Hendra mencoba untuk mengemis demi makan untuk pagi ini, dan hasilnya cukup untuk membeli makan pagi. Disepanjang jalan Hendra merenungkan nasibnya, “hidup tanpa uang dan tanpa modal apapun, apakah bisa?” ucapnya dalam hati. Ketika merenung, Hendra melihat selebaran iklan yang tertempel dipohon beringin. “Lowongan Pekerjaan. Dicari orang yang mampu menjadi OB. Tanpa syarat dan langsung bekerja.” Melihat hal itu, hati Hendra merasa puas dan ia pun bersemangat untuk menerima tawaran tersebut. Saat itulah Hendra langsung menuju perusahaan yang ada di alamat iklan tadi. Setelah bertemu dengan manajer perusahaan, Hendra pun langsung dipercaya untuk bekerja. Senang hati Hendra, akhirnya ia pun bisa bekerja untuk mendapatkan uang demi hidupnya.

                Dari dulu Hendra adalah seorang yang rajin dan tekun. Hingga sekarang pun ia tetap pada sifatnya tersebut. Setelah Hendra menjadi OB di perusahaan tersebut, banyak hal aneh yang dialami para karyawan begitupun dengan sang manajer dan sang direktur. Keadaan kantor yang semula begitu berantakan, namun dalam satu malam semuanya menjadi rapi dan teratur. Sang manajer merasa heran dan curiga dengan hal ini selain itu juga terjadi selama 2 minggu ini. Hati manajer tergerak untuk menyelidiki langsung peristiwa ini. Hari ini, ia sengaja untuk bermalam di rungannya tanpa ada seorangpun yang tahu. Ketika semua karyawan telah pulang, tinggalah manajer sendirian. Setelah shalat is’ya manajer mendegar suara orang yang sedang beraktivitas. Ketika diintipnya, ternyata orang itu adalah Hendra. Hendra tinggal digudang perusahaan dan tidak lagi pulang ke rumah gorong-gorongnya. Hendra melakukan demikian karena ada sesuatu yang mendorongnya untuk merapikan keadaan kantor.

                Keesokan harinya, sang manajer menaikkan jabatan Hendra untuk menjadi supervisor perusahaan. Ia sangat bersyukur pada Tuhan karena kenaikan jabatannya yang tidak ia duga. Makin hari keadaan perusahaan makin meningkat, baik itu dalam hal keungan, pemasaran, maupun hubungan dengan perusahaan lain. Sungguh perubahan yang sangat drastis. Meskipun ia menjadi seorang supervisor, tapi ia tetap membantu pegawainya dalam bekerja bahkan membantu pekerjaan OB. Karena kepekaannya lah akhirnya Hendra diangkat sebagai karyawan terbaik dalam bulan itu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Hendra merasakan dirinya seperi tidak bebas untuk menjalani hidup ini.

                Keputusan yang mengejutkan bagi karyawan dan manajer peusahaan, Hendra mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan memilih hidup didalam rumah gorong-gorongnya yang ada dialam lepas. Hendra sadar, sejak kecil ia tidak cocok untuk tinggal didalam rumah yang mewah, tapi rumah seadanya lah yang ia rasa cocok. Hendra, meskipun diluar perusahaan, ia tetap menjunjung tinggi nilai kepekaan dalam dirinya. Apabila ada sesuatu yang salah, dengan keadaan yang seadanya Hendra mau bergerak. Hendra beprinsip “bumi adalah rumahku, dan rumahku harus dijaga agar tetap bersih. Demi hal-hal yang menyangkut kekayaan harta, aku rela hidup miskin dan tanpa jabatan pekerjaan.”


èTAMATç

Tidak ada komentar:

Posting Komentar