Rabu, 28 Januari 2015

Tiba-tiba

Tet….tet….tet…….
                Suara bel dikamarku membangunkan aku dari tidur ku. Tak terasa aku sudah berada di rumah setelah sekian lama aku di asrama.
“selamat pagi dunia!!!!”  ucapku saat membuka jendela kamarku.
Nama ku  adalah Alex, pemuda tampan berusia 17 tahun, ganteng, manis, pintar, setia, playboy, tapi tetap disenangi banyak wanita. Sebenarnya aku setia, tapi kalau kekasih ku ngak serius, aku berubah.
                Hari ini adalah hari yang mengembirakan bagiku. Setelah semalam sebelumnya aku menyiapkan segala sesuatu, pagi ini juga aku akan perjalanan dari Palembang menuju ke Lubuklinggau. Senang hatiku karena akan berjumpa dengan keluargaku, tapi juga sedih karena meninggalkan pacarku.

Tut….tut….
                Dari kejauhan kudengar klakson kereta api berbunyi yang menandakan aku sesaat lagi tiba di stasiun kertapati. Tak ada kesibukan lagi, aku pun langsung memasuki gerbong kereta. Untungnya di stasiun sinyal hp ku penuh, jadinya aku punya kesempatan untuk menelpon pacarku. Sedang asik bertelponan, suara informan melalui speaker mengajak para penumpang untuk masuk ke gerbong masing-masing. Tak lama kemudian kereta pu berangkat. Aku member  kabar kepada keluargaku bahwa kereta yang aku tumpangi telah berangkat.

Tut…tut….
                Suara klakson kereta yang panjang menandakan aku telah tiba di tempat tujuanku yaitu Lubuklinggau. Setelah kurang lebih aku duduk selama 8 jam dikereta, akhirnya tiba juga dan bisa meluruskan pinggang. Ketika aku turun, aku disambut oleh banyak orang. Tapi tentunya mereka bukan penggemarku melainkan orang-orang yang akan menjemput penumpang lainnya. Seluruh penjuru telah kuamati, dan akhirnya aku melihat bapak ku. Senang rasanya bisa berjumpa.
                Setelah sejenak mengobrol, aku langsung pulang bersama bapak. Perjalanan jauh pun kembali aku tempuh. Sekitar 2 jam perjalanan dari stasiun menuju rumah. Setelah sampai, aku tak sempat beristirahat karena diajak bapak untuk menonton kuda lumping, dan kebetulan adik ku yang bermain. Namun, tak lama kemudian aku mengantuk dan pulang.
                Tujuan utama ku kesini adalah untuk bertemu dengan keluargaku dan melepas rindu. Tapi, keadaan berkata lain. Aku menemukan sebuah cinta disini. Entah apa yang terlintas di dalam benakku, sehingga aku melupakan pacarku. Aku seperti terhipnotis oleh keadaan disini, yang membuatku mampu untuk melupakan segalanya. Aneh.

Moo….  Mbek……
                Kicauan sapi dan siulan kambing membangunkan aku dari tidur lelap ku. Segar dan dingin yang kurasakan di pagi hari ini. Tidak terasa ternyata aku sudah ada di sini, tempat yang hampir 2 tahun lebih tidak kusambangi. Hijaunya pohon-phon dan tanaman yang ada disekitar rumah membuat mataku jadi fresh. 
                Disini aku mengerti segala sesuatu. Disini aku belajar untuk hidup sederhana. Aku belajar nderes karet, ngarit rumput, memotong kayu bakar dan memasak. Sungguh sulit hidup menjadi orang sederhana itu.
                Tak terasa satu minggu telah berlalu semenjak kedatanganku. Aku harus pulang ke Palembang. Tetapi aku memiliki peristiwa sebelum pulang. Aku berkenalan dengan seorang wanita cantik nan manis. Nama nya Deva, anak kelas 3 SMP yang kebetulan satu sekolah dengan adikku. Karena hal tersebut, aku menunda kepulangan hingga 5 hari kedepan.
                Sebenarnya aku sudah suka dengan dia sejak pertama melihat dia, tapi aku baru kenalan beberapa hari kemudian. Aku berkenlan melalui  via SMS. Lalu keesokan harinya aku memberanikan diri untuk menyapanya, meskipun aku malu. Selama 4 hari itu aku lalui bersama dengan dia, hingga timbul perasaan saling mencintai satu sama lain. Dalam hati aku bingung dengan pacarku di Palembang. Tapi mau bagaimana lagi, hubungan kami juga sudah diujung tanduk. Lalu setelah tiba waktunya, aku pulang ke Palembang. Berat rasanya untuk meninggalkannya. Tapi demi panggilanku, aku harus meninggalkannya.
                Di Palembang aku selalu memikirkannya, dan membayangkan kejadian kemarin terulang kembali. Tapi, semua hanya mimpi. Hanya lewat SMS kami berkomunikasi, dan itupun ketika aku pulang saat ambulatio. [1]
                Sebulan masih kangen, tapi bulan selanjutnya aku mulai bosan dan aku mencoba untuk melupakannya. Hngga kini akupun berhasil untuk melupakannya. Karena aku ingat, cinta tak harus memiliki.




[1] Bahasa Latin: Berjalan/Jalan-jalan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar